Ambil Jeda Ketika Berada di Titik Terendah

Setiap orang pernah berada dalam kondisi sulit bahkan titik terendah dalam hidup. Berbagai perasaan seperti sedih, cemas, takut, kecewa, marah hingga tidak berdaya hadir silih berganti. Rasanya semua beban berkumpul jadi satu dan tubuh begitu lelah untuk memikulnya. Harapan akan hal baik rasanya jauh dan sulit untuk digapai. Bertahanpun rasanya menantang, bagaimana untuk bangkit kembali dari situasi sulit ini?

Tulisan ini bersumber dari pengalaman diri sendiri dan beberapa teman yang mau untuk berbagi cerita. 

Dalam situasi yang rumit, mungkin bernafaspun rasanya sulit. Kita perlu jeda sebentar, ambil jarak dari masalah itu. Bukan untuk lari, tetapi untuk mengenali. Terkadang karena kita ada di dalamnya, semua terasa besar, berat, atau sulit. Akan tetapi ketika kita coba melihat dari jarak tertentu, semua menjadi lebih jelas. Saat mengambil jeda, berkomitmenlah bahwa kita akan kembali melangkah lagi saat semua rasanya siap.

Jaga Kesehatan

Tubuh kita akan memberikan tanda ketika sedang dalam kondisi tidak baik atau sebaliknya. Tubuh atau fisik adalah bagian pertama yang perlu kita pulihkan untuk menuju bagian lebih dalam lagi, seperti pikiran dan emosi. Jeda inipun berfungsi untuk kembali ke tubuh, bagian terdekat dalam kehidupan kita. Mungkin tanpa sadar otot-otot tubuh kita terlalu sering tegang sehingga perlu dilemaskan sebentar. Pejamkan mata dan rasakan tubuh dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tangkap tanda yang diberikan, mungkin butuh berjalan sebentar, minum lebih banyak, atau hal lainnya. 

Buat janji konsultasi psikologi dengan Putri Puspitaningrum, M Psi.

Setelah tubuh, ruang untuk ekspresi emosipun sebaiknya dibuka. Dalam masa sulit, emosi sedih, kecewa, marah, takut perlu diberikan media untuk kita rasa secukupnya dan kita keluarkan jika porsinya sudah berlebihan. Sebisa mungkin jangan menahan emosi di dalam diri karena hal tersebut mungkin akan membuat kondisi fisik kita ikut melemah. Akan tetapi, jangan juga mengeluarkan emosi hingga membahayakan diri sendiri dan orang lain. 

Ventilasi Emosi

Lakukan ventilasi emosi dengan cara yang aman, seperti mengatur nafas, menuliskan atau menggambar perasaan, dan bisa juga kertas-kertas itu dirobek atau diremas ketika ada energi fisik yang perlu dikeluarkan. Sekali lagi, pastikan itu aman untuk diri sendiri dan orang lain agar tidak memunculkan masalah baru. 

Ketika proses ventilasi emosi berjalan dengan baik, nafas kitapun perlahan melega. Nafas yang lega menjadi jembatan awal diserapnya oksigen lebih banyak sehingga kita lebih mampu berpikir. Kondisi yang lebih stabil ini juga membuat kita lebih mampu untuk mengidentifikasi sumber daya atau kekuatan yang kita miliki, baik di dalam diri maupun dari orang-orang terdekat. 

Bangun Sistem Dukungan

Dalam kondisi sulit, selain kembali ke diri sendiri, kita juga perlu kembali pada sistem dukungan yang kita miliki. Percayalah, pasti ada dan sistem itu bisa kita bentuk dari awal ketika kita mau. Pergi ke konselor, psikolog, psikiater atau lainnya adalah salah satu bentuk langkah membangun sistem dukungan dari yang belum ada menjadi ada. Tenang, mendapat bantuan dari orang lain adalah bagian dari hidup, bukan lemah, tetapi ingin beranjak menjadi kuat. 

Jeda yang efektif akan membawa kita pada emosi yang lebih stabil, pikiran yang dapat bekerja, dan dukungan yang dapat kita harapkan. Dari sana, kita siap melanjutkan langkah menuju kondisi yang lebih baik.

Tak ada batasan berapa kali boleh ambil jeda, selama kita ingat untuk kembali berjalan lagi pada waktunya.

Tulisan lain dari Putri Puspitaningrum