Menjadi Bully-Proof

Bullying atau perundungan bukan lagi fenomena yang baru di Indonesia. Dari tahun ke tahun, selalu ada berita yang menyiarkan kasus terkait bullying di sekolah. Tidak sedikit pula kasus bullying yang tidak diberitakan, namun nyata adanya terjadi di lingkungan kerja. Mari kita telaah lebih lanjut mengenai fenomena ini.

Konsultasi dengan psikolog sekarang

Tindakan apa yang termasuk Bullying?

Bullying merupakan pola perilaku agresif berulang yang dilakukan oleh pihak tertentu dengan tujuan menyakiti pihak lain secara fisik, verbal, maupun emosional. Namun, ada pula situasi di mana kita harus melaporkan tindakan yang membuat tidak nyaman ke pihak yang lebih berwenang seperti guru dan atasan, antara lain:

  • Ketika Anda atau orang lain disakiti secara fisik
  • Ketika ada orang yang mengancam hendak menyakiti Anda atau orang lain, baik dengan kata-kata maupun dengan barang berbahaya (contoh: pisau)

Mengapa seseorang melakukan Bullying?

  • Perilaku bullying dipelajari oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung, misalnya dengan terbiasa melihat kekerasan verbal di rumah.
  • Memanfaatkan “kuasa” untuk mengendalikan orang lain, misalnya memiliki tubuh yang lebih besar atau lebih populer sehingga merasa berhak untuk bertingkah semena-mena.
  • Kurang berempati. Empati merupakan sesuatu yang dipelajari, namun ketika seseorang tidak pernah belajar berempati maka mereka tidak akan memikirkan dampak dari perilaku mereka terhadap orang lain. 
  • Konsep diri yang buruk atau rendah. Ada pula orang melakukan bullying sebenarnya untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka. 
  • Kurang toleran akan perbedaan, misalnya dengan bertingkah rasis, merendahkan orang yang berbeda dengannya.

Jenis-jenis Bullying

  • Physical bullying, yaitu tindakan yang secara sengaja bertujuan untuk menyakiti tubuh orang lain, merusak barang pribadi, atau mengambil barang yang dimiliki orang lain tanpa izin. Contohnya: orang yang melakukan bullying dengan sengaja dan berulang kali memukul, menendang, meninju, memalak uang, merusak tas, dan lain sebagainya.
  • Verbal bullying, yaitu kata-kata yang secara sengaja diungkapkan dengan tujuan merendahkan harga diri dan kepercayaan diri seseorang. Contohnya: dengan sengaja dan berulang kali memberi label negatif kepada teman, mengejek teman karena dia “berbeda” atau “unik” dari yang lain.
  • Emotional bullying, yaitu tindakan yang secara sengaja bertujuan untuk membuat pihak yang di-bully merasa diabaikan dan tidak dilibatkan. Meski bullying jenis ini tidak secara langsung menyerang pihak yang di-bully, namun dampaknya dapat membuat orang tersebut merasa sedih, takut, dan kesepian. Contohnya: secara sengaja mendiamkan dan tidak mengajak bicara salah satu orang di kelas, menyebarkan rumor dan gosip mengenai rekan kerja satu divisi.
  • Cyberbullying, yaitu tindakan bullying yang terjadi di dunia maya. Contohnya: menyebarkan rumor di sosial media, meninggalkan hate-speech di internet.

Bedakan Bullying dengan tindakan serupa namun tak sama

Tidak semata-mata semua tindakan menyebalkan yang ditujukan kepada kita adalah bullying. Ada kalanya orang bertingkah menyebalkan karena ia sedang mengalami hari yang buruk. Jika tindakan ini tidak berulang dan orang tersebut tidak bermaksud menyakiti, maka tindakan tersebut tidak termasuk bullying. Meski bukan termasuk bullying, tetap wajar jika kita merasa tersakiti saat orang lain berperilaku buruk terhadap kita.

Bagaimana cara menghadapi Bullying?

Perlu diingat bahwa orang biasanya melakukan bullying pada orang lain yang dianggap sebagai “target yang mudah” untuk di-bully. Jadi, kita harus menunjukkan bahwa kita bukanlah orang yang mudah untuk dijatuhkan dengan bullying. Beberapa caranya adalah dengan miliki konsep diri yang baik, hargai diri, dan tingkatkan kepercayaan pada diri sendiri. Hal penting lainnya demi memberantas bullying adalah jangan menjadi orang yang suka melakukan bullying ya!

Gunakan kata-katamu dengan tepat, misalnya dengan:

  • Mengatakan “tidak” secara tegas untuk menolak seseorang yang memaksa kita untuk melakukan sesuatu.
  • Mengalihkan pembicaraan menjadi topik lain.
  • Berkata “jangan dekat-dekat!” atau “jangan ganggu saya!” dengan keras agar orang lain di sekitar memperhatikan.

Kata-kata akan lebih efektif jika dibarengi dengan aksi nyata, seperti:

  • Berjalan meninggalkan orang yang melakukan bullying tanpa berkata apa-apa. Jika kamu diikuti, maka teruslah berjalan menuju pihak yang dapat membantu seperti guru, atasan, atau satpam.
  • Salah satu tujuan orang yang melakukan bullying adalah ingin melihat reaksi yang kita tunjukan. Oleh karena itu, jangan memberi reaksi berbentuk ekspresi maupun kata-kata. Bertingkahlah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
  • Jika mendapatkan pesan atau komentar mengandung hate-speech, jangan dibalas. Jika pesannya mengancam, simpanlah sebagai bukti.
  • Fokuskan perhatian kamu ke hal lain, misalnya dengan menggunakan earphone untuk mendengarkan musik, mengerjakan tugas yang harus diselesaikan, atau mengobrol dengan teman lain.
  • Sebisa mungkin hindari tempat atau situasi di mana orang yang mem-bully sering berada, walaupun sering kali hal ini sulit dilakukan karena bisa jadi kita sekelas atau satu divisi dengan orang yang mem-bully kita.
  • Minta bantuan kepada pihak yang lebih berwenang atau teman-teman lainnya, misalnya dengan bercerita kepada orang tua, meminta ditemani teman ketika ingin melaporkan tindak bullying kepada guru, atau menghabiskan waktu istirahat dengan teman di kelas atau divisi lain.

Jangan lupa perbaiki postur tubuhmu dan tampak percaya diri, yaitu dengan:

  • Berpostur tegap dari bahu ke punggung
  • Hindari terlalu banyak menunduk, angkatlah wajahmu agar sejajar dengan lawan bicara
  • Menggunakan kontak mata saat berbicara dengan orang lain
  • Berlatih bersuara yang cukup keras dan bulat
  • Berjalanlah dengan percaya diri dan mantap
  • Kenali kekuatan dirimu, sadari bahwa kamu berhak untuk diperlakukan dengan baik, dan berfokuslah pada orang-orang yang mendukungmu
  • Belajar bela diri untuk membangun kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan membela diri di situasi membahayakan, dan memperbaiki postur tubuh.

Jika kamu memiliki isu terkait bullying dan merasa butuh bantuan psikolog, kamu bisa menjadwalkan sesi konseling dengan psikolog kami melalui tautan https://www.konsultasi.hatiplong.com/ 

Referensi :

Allen, V. G. (2018). The no more bullying book for kids: Become strong, happy, and bully-proof. Rockridge Press.