Membuat Goal yang Bertahan

Berbicara mengenai goal (target atau tujuan) tentunya tidak terbatas pada momentum-momentum seperti tahun baru, lulus kuliah, jabatan baru atau hari besar. Sehari-hari, kita menemukan berbagai hal baru dalam hidup kita dan membentuk goal berdasarkan pengalaman tersebut. Goal yang kita buat tentunya bersifat positif: untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu yang berdampak baik bagi kita. Misalnya ingin mencapai berat badan tertentu, menghilangkan kebiasaan merokok, membaca lebih banyak buku dan berinteraksi dengan lebih banyak orang.

Sayangnya, seringkali goal tersebut tidak tercapai atau hilang di tengah jalan. Pernahkah kamu mengalaminya? Memang wajar jika pencapaian goal tidak mulus seperti apa yang kita harapkan. Mengubah kondisi kita saat ini ke kondisi ideal tentu membutuhkan usaha dan seringkali bertemu ketidaknyamanan. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak bisa mencoba untuk mencapai goal tersebut.

Konsultasi dengan psikolog sekarang

Berdasarkan penelitian terdapat 2 hal penting yang meningkatkan pencapaian goal, dengan menjawab dua pertanyaan ini: “Kenapa saya harus mencapai goal ini?” dan “Bagaimana saya memulai dan melakukannya?”

Kenapa saya harus mencapai goal ini?

Sebuah alasan menjadi pendorong bagi kita dalam bertindak. Alasan yang datang dari dalam diri merupakan sumber motivasi yang besar bagi kita. Buatlah goal yang sesuai dengan kekuatan diri (strength) dan nilai personal (value). Goal yang personal ini tentunya dibuat berdasarkan kesadaran atas situasi kita dan bertujuan untuk mencapai diri yang lebih positif. Makanya, usaha kita untuk memenuhinya pun lebih kuat dibandingkan jika goal tersebut berdasarkan tuntutan dari lingkungan atau perasaan bersalah. Misalnya, seseorang membuat goal untuk menurunkan berat badan dalam waktu setahun. Jika ia melakukannya karena kesadaran diri, sadar bahwa stamina berkurang karena kondisi tubuh dan ingin lebih lincah dalam beraktivitas, maka usaha yang dilakukan tentu akan lebih besar dibandingkan jika ia melakukannya karena takut diberikan cemoohan oleh lingkungan.

Bagaimana saya memulai dan melakukannya?

Ya, walaupun kita sudah mengetahui motivasi kita untuk mencapai sebuah goal, seringkali kita tetap kesulitan dalam melakukannya. Di luar motivasi yang besar, tidak jarang kita dihadapkan dengan banyak rintangan, baik dari dalam maupun luar. Selain itu, sangat umum bagi seseorang untuk memiliki lebih dari 1 goal sehingga sulit untuk menentukkan mana yang perlu dilakukan terlebih dahulu.

Langkah awal dalam pencapaian goal merupakan hal penting. Dari mana saya harus memulai? Buat rencana yang spesifik pada setiap goal yang ingin kita capai: kapan, dimana, bagaimana. Selain itu akan lebih baik jika kita dapat mengaitkannya pada lingkungan sekitar dan mengidentifikasi kesulitan yang mungkin dihadapi. Rencana yang spesifik ini membantu kita untuk lebih efisien dalam memberikan usaha dan menurunkan distraksi.

Melanjutkan ilustrasi sebelumnya, seseorang yang ingin menurunkan berat badan dapat membuat langkah spesifik seperti: membuat jadwal berolahraga 30 menit setiap sore, meningkatkan konsumsi air mineral, ataupun mempersiapkan perlengkapan olahraga setiap pagi sehingga mudah diraih menjelang waktunya. Bahkan rencana untuk mengubah kebiasaan pun dapat dirancang dengan sederhana, misalnya membiasakan minum segelas air setiap kali melewati dispenser.

Setiap goal yang kita buat tentunya berupaya untuk mencapai versi terbaik dari diri kita. Memiliki goal tersebut merupakan hal yang baik, namun lebih utuh dan bermanfaat apabila kita paham bagaimana melakukannya. Yuk kita mulai yuk!

Jika kamu bingung dalam menentukan goal, bagaimana mencapainya, ataupun bagaimana menghadapi rintangan yang ada, HatiPlong siap membantumu.

Lihat artikel psikologi lainnya

Sumber:

Koestner, R., Lekes, N., Powers, T. A., & Chicoine, E. (2002). Attaining personal goals: Self-concordance plus implementation intentions equals success. Journal of personality and social psychology, 83(1), 231.

Sheldon, K. M., & Houser-Marko, L. (2001). Self-concordance, goal attainment, and the pursuit of happiness: Can there be an upward spiral?. Journal of personality and social psychology, 80(1), 152.