Emosi Sebagai “Tamu”

“Aku nggak mau sedih, Mbak”

“Nggak suka kalau aku kecewa seperti ini”

“Benci rasanya kalau aku nggak bahagia”

“Aku nggak mau kelihatan lemah, makanya aku selalu berusaha gembira”.

Familiar dengan kalimat-kalimat itu? Tidak jarang sepertinya kita menolak, ingin lari, bersembunyi, tidak mau menghadapi emosi-emosi negatif karena membuat kita merasa tidak nyaman. Kita cenderung lebih suka merasakan emosi positif dan ingin berlama-lama merasakannya. 

Lari, dan Kamu Akan Dikejar

Sekarang coba bayangkan jika Anda kedatangan tamu. Jika tamu itu membunyikan bel atau mengetuk pintu rumah, apa yang akan Anda lakukan? Respon yang paling umum yaitu akan keluar membukakan pintu, melihat siapa yang datang, dan menanyakan maksud kedatangannya. Sekarang coba bayangkan lagi. Bagaimana jika respon Anda mengunci pintu, dan bersembunyi di kamar? Menurut Anda apa yang akan dilakukan tamu itu? Mungkin dia akan pergi karena pintu tidak kunjung dibuka, atau justru semakin mengganggu karena terus menerus mengetuk atau membunyikan bel. Kita coba bayangkan situasi lainnya. Bagaimana jika selanjutnya Anda pergi keluar dari rumah melalui pintu belakang, meninggalkan tamu yang masih mengetuk pintu atau membunyikan bel? Mungkin sesaat Anda akan merasa lega, ya. Akan tetapi, pernahkah Anda berpikir bahwa sangat mungkin Anda justru bertemu dengan tamu itu di tengah jalan. Semakin Anda menghindar, semakin Anda dikejar. 

Konsultasi dengan Josephine Setyawati, M. Psi.

Perlakukan Emosi Sebagai Tamu

Emosi-emosi kita sebetulnya seperti tamu yang datang berkunjung itu. Emosi dapat datang secara otomatis tanpa kita harapkan dan pergi tanpa kita minta. Akan tetapi setiap emosi, positif ataupun negatif, punya pesan yang ingin disampaikan – layaknya tamu yang datang ke rumah kita. Mereka memiliki sesuatu yang ingin dikatakan, diberikan, disampaikan kepada kita. Selayaknya tamu, ketika pesannya dirasa sudah cukup tersampaikan, mereka akan pamit untuk pergi.

Meski kita berusaha menahan mereka untuk tetap tinggal di rumah kita, suatu saat mereka pasti akan pergi. Hal ini berlaku untuk semua emosi yang kita rasakan. Sekuat apapun kita mencoba mempertahankan emosi positif seperti senang, bahagia, puas, atau bangga, mereka juga akan pergi ketika pesannya sudah tersampaikan. Jika mereka mau menyampaikan pesan lagi, mereka akan kembali. Begitu pula emosi negatif. Sejelek apapun bentuknya, mereka ingin kita mendengarkan dan menerima pesan yang ingin mereka sampaikan. 

Terima Emosi Apa Adanya

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Jadilah tuan rumah yang baik. Tuan rumah yang baik tidak akan membeda-bedakan perlakuan terhadap tamunya hanya karena tamunya jelek, tidak menyenangkan, atau membawa pesan buruk. Tuan rumah yang baik akan membukakan pintu, keluar menyapa, dan menanyakan maksud kedatangan. Jika mereka tampaknya akan lama, maka tuan rumah yang baik menjamu mereka dan mungkin mempersilakan mereka masuk agar lebih nyaman untuk bicara. Kemudian saat mereka sudah bersiap pergi, tuan rumah tidak akan berusaha menahan mereka lebih lama, tetapi mengantarkannya ke depan pintu hingga tamu itu pergi tak tampak lagi. Coba perhatikan, jika kita sudah mencoba menganggap semua emosi yang hadir sebagai tamu, menerima mereka apa adanya, apakah rasa tidak nyaman kita perlahan berkurang? 

Jadi, mari kita coba lihat lebih dalam ke diri kita. Tamu yang datang saat ini bentuknya seperti apa, dan pesan apa yang ingin ia sampaikan? 

Kumpulan tulisan Josephine Setyawati