Mengenal Lebih Jauh Tentang Burnout

Akhir-akhir ini, tidak jarang rasanya kita mendengar istilah burnout. “Duh aku kok rasanya capek banget, kayaknya aku burnout.” “Ih, aku nggak mau ngerjain ini lagi, aku muak, burnout rasanya.” Kalimat-kalimat seperti itu pasti pernah kita dengar di lingkungan sekitar kita, atau bahkan kita sendiri yang mengatakan kalimat itu. Tetapi apa sih burnout itu sesungguhnya? Apakah yang kita rasakan benar-benar bisa masuk sebagai kondisi burnout?

Konsultasi dengan psikolog sekarang

World Health Organization atau WHO (2019) menjelaskan bahwa kondisi burnout ini dijelaskan dalam ICD-11 sebagai sebuah fenomena okupasional, bukan merupakan kondisi medis. Artinya, burnout merupakan sebuah sindrom yang terjadi karena tekanan pekerjaan kronis yang tidak berhasil diatasi. Menurut APA (n.d), burnout merupakan sebuah kondisi kelelahan fisik, emosional, atau mental yang disertai dengan adanya penurunan motivasi, performa kerja, dan sikap yang cenderung negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. 

Burnout pertama kali diteliti oleh Freudenberger, seorang psikiater, pada tahun 1975. Ia mengobservasi pekerja di klinik tempatnya bekerja. Kemudian penelitian tentang burnout juga banyak dilakukan oleh Maslach dan Leiter, dimulai dari tahun 1976, dimana Maslach banyak mewawancarai pekerja sosial (Maslach, Schaufeli, & Leiter, 2001). Terdapat tiga dimensi dari burnout, antara lain (Maslach & Leiter, 2016): 

  1. Merasakan kelelahan yang amat sangat, atau disebut exhaustion. Kelelahan yang amat sangat ini menjadi gejala utama yang paling terlihat pada kondisi burnout (Leiter, Maslach, & Frame, 2015). Kelelahan yang dirasakan tidak seperti kelelahan biasa, tetapi lebih jauh lagi, individu akan merasakan kehabisan energi, seperti terkuras habis. 
  2. Depersonalisasi atau merasa berjarak dengan pekerjaan. Beberapa teori menyebut kondisi ini sebagai sinisme, dimana individu menjadi bersikap sinis terhadap pekerjaannya, dengan tujuan menjauhkan diri dari pekerjaannya. Sikap yang muncul misalnya menunjukkan sikap yang tidak pantas terhadap klien, mudah tersinggung, kehilangan idealisme diri, dan menghindar dari pekerjaan yang seharusnya dilakukan. 
  3. Perasaan inefficacy atau merasa mengalami penurunan pencapaian personal. Misalnya terjadi penurunan produktivitas kerja, moral kerja yang menurun, dan merasa tidak sanggup untuk menghadapi beban kerja. 

Sindrom burnout ini tentu saja berdampak pada performa kerja sehari-hari. Gejala burnout yang paling umum yaitu kehilangan kreativitas dalam pekerjaan, menurunnya komitmen terhadap pekerjaan, merasa terpisah dari pekerjaan, muncul berbagai keluhan fisik dan emosional, sikap yang cenderung tidak pantas dan sesuai di pekerjaan, misalnya sinis terhadap klien, dan merasa energinya terkuras habis (Corder & Dougherty, dalam Leiter, Maslach, & Frame, 2015). 

Gejala-gejala ini kemudian dibarengi dengan berbagai masalah di tempat kerja, yang paling umum misalnya sering absen, menunjukkan penurunan produktivitas, meningkatnya angka turnover, ketidakpuasan dalam bekerja, dan relasi dengan rekan kerja yang memburuk (Jackson & Maslach; Leiter & Maslach, dalam Leiter, Maslach, & Frame, 2015; Maslach & Leiter, 2016). 

Burnout memang tidak diklasifikasikan dalam gangguan kondisi mental, tetapi tetap perlu perhatian yang serius. Penanganan yang tepat diperlukan karena dampak burnout bisa menyebar ke berbagai aspek kehidupan yang lain, termasuk menurunnya kondisi kesehatan fisik dan memicu masalah mental lainnya. 

Oleh karena itu, cobalah sadari kondisi diri jika sudah mulai merasa kelelahan ketika bekerja, karena ini bisa jadi tanda awal kita mengalami tekanan, yang jika tidak tertangani, bisa menjadi burnout. Jangan abaikan kelelahan yang dirasakan itu, segera lakukan self-care, termasuk istirahat yang cukup, perhatikan pola makan dan tidur, dan sebisa mungkin atur kegiatanmu agar work-life balance tetap terjaga. 

Jika tekanan pekerjaan yang dirasakan sudah mulai makin terasa mengganggu, jangan ragu untuk konsultasikan dirimu ke profesional, ya! 

Penasaran dengan level burnout-mu? Coba isi tes burnout ini untuk tahu

Lihat artikel psikologi lainnya

Sumber :

American Psychological Association. (n.d). Burnout.

Leiter, M. P., Maslach, C., & Frame, K. (2015). Burnout. The Encyclopedia of Clinical Psychology. 1-7. 

Maslach, C. & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience : recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15, 103 – 111. 

Maslach, C., Schaufeli, W. B., & Leiter, M. (2001). Job burnout. Annual Reviews Psychology, 52, 397 – 422. 

World Health Organization. (2019). Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases.