Diatur Berlebihan Membuat Remaja Membangkang?

remaja membangkang karena orang tua memberikan banyak larangan

Apa benar diatur berlebihan akan membuat remaja merasa terkekang, lalu kemudian membangkang?

Peralihan mengasuh anak-anak yang beranjak menjadi remaja merupakan tantangan yang umum bagi para orang tua. Hal ini disebabkan oleh perubahan drastis yang dialami remaja, baik secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan teori yang ditemukan oleh Erik Erikson, tugas perkembangan di masa remaja adalah pencarian identitas. Dalam pencarian tersebut, tentunya remaja menjadi tertarik untuk mencoba banyak hal, misalnya memperluas koneksi pertemanan, mengikuti berbagai kegiatan non-akademis yang sesuai dengan hobinya, hingga mulai mendapatkan peer-pressure untuk melakukan hal-hal yang berbahaya. Karena dunianya saat ini sedang terfokus di dunia luar rumah, penerimaan teman merupakan hal penting bagi remaja. Kondisi ini membuat beberapa orang tua menjadi was-was akan keselamatan anaknya di luar rumah maupun di dunia maya. Sulitnya lagi, remaja yang sudah mulai ingin bertindak sesuai keinginannya sendiri, lebih sulit diatur dengan peraturan yang ketat dibandingkan anak-anak.

Konsultasi dengan psikolog sekarang

Pentingnya Bermain Cantik antara Memegang Kendali dan Memberikan Kebebasan

Mengasuh remaja pada dasarnya membutuhkan keahlian untuk bermain cantik antara kebutuhan orang tua untuk mengontrol agar tidak terlewat batas dan memberikan kebebasan yang diharapkan remaja sesuai dengan usia dan tugas perkembangannya. Ketika remaja terlalu dikekang dengan terlalu banyak aturan yang tidak bisa ditoleransi, pada akhirnya remaja akan membangkang dan mencari jalan lain yang tidak diketahui orang tua untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sayangnya, keinginan akan kebebasan pada remaja belum diikuti oleh kemampuan judgment yang baik karena otaknya masih dalam perkembangan (belum sepenuhnya matang). Tentunya jika hal ini terjadi, remaja malah bisa menempuh jalan yang lebih membahayakan dirinya. Dengan memainkan peran cantik antara kebutuhan orang tua untuk menetapkan aturan dan kebutuhan remaja akan kebebasan, secara bertahap orang tua dapat memberikan kebebasan yang diikuti dengan mengajarkan remaja mengenai tanggung jawab atas perbuatannya. Remaja yang memahami bahwa perbuatannya memiliki konsekuensi akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas kebebasan yang dipercayakan oleh orang tua.

 

Aturan untuk Remaja = Membimbing Remaja dalam Mengambil Keputusan

Aturan memang dibuat agar anak remaja tidak bertindak “lepas kendali” karena keingintahuannya yang besar akan hal-hal baru pada masa pencarian identitas diri. Namun, karena orang tua tidak bisa selalu mengawasi anak remajanya setiap saat di luar rumah, aturan untuk remaja sebenarnya lebih bertujuan untuk membimbing remaja mengambil keputusan yang bijak, terutama dalam situasi yang berpotensi membahayakan dirinya sendiri. Agar tujuan ini dapat tercapai, maka kepercayaan dan komunikasi terbuka antar remaja dan orang tua harus terjalin dengan baik. Baik orang tua maupun remaja dapat mengutarakan harapan masing-masing dan bersedia mencari kompromi agar terjadi win-win solution.

 

Aturan Disepakati oleh Orang Tua dan Remaja, Bukan Berdasarkan Keinginan Orang Tua Saja

Apabila orang tua terlalu mengekang anak dengan aturan yang terlalu banyak, kaku, dan tidak memedulikan apa yang anak pikirkan (micromanaging), maka orang tua telah kehilangan kesempatan untuk menjalin komunikasi terbuka mengenai hal-hal yang penting dengan anak remajanya. Anak remaja bisa jadi terang-terangan membangkang atau tidak mengindahkan apa yang orang tua katakan, namun bisa juga membangkan secara terselubung. Karena sadar bahwa bernegosiasi dan mengutarakan pendapat merupakan hal yang percuma, biasanya remaja akan sekadar mengiyakan apa yang orang tua perintahkan, namun belum tentu melakukan hal tersebut. Dari sini juga remaja dapat belajar untuk berbohong pada orang tua demi mendapatkan apa yang ia inginkan. 

 

Di sisi lain, ada pula anak remaja yang tidak berani untuk membangkang. Biasanya remaja seperti ini adalah yang mematuhi apapun yang orang tua katakan, jarang keluar rumah, dan tidak bergaul jika tidak diizinkan orang tua. Meski kesannya baik, namun remaja seperti ini akan kaget di masa dewasa awal ketika ia mencicipi kebebasan yang sebenarnya. Bisa jadi, ia baru mencoba melakukan hal-hal yang dilarang orang tuanya di masa ia tidak diawasi lagi oleh orang tua di masa dewasa. Kondisi ini dapat membuat anak menjadi benar-benar di luar kendali, karena tidak ada lagi orang tua yang mengawasi.

Dua kondisi ekstrem inilah yang dapat terjadi apabila aturan yang dibangun dari satu pihak saja, yaitu orang tua, tanpa andil dari remaja. 

 

Beri Ruang untuk Saling Negosiasi dan Kompromi

Dengan melibatkan remaja dalam membentuk aturan, kebutuhan remaja akan kebebasan dan kemandirian akan terpenuhi. Remaja dapat memiliki rasa dihargai pendapatnya, didengarkan keinginannya, dan diberi kepercayaan untuk membuat keputusan sesuai dengan usianya. Karena aturan tersebut dibuat berdasarkan pendapat mereka juga, ada kemungkinan yang lebih besar bagi remaja untuk menyetujui dan mengikuti aturan tersebut bahkan tanpa paksaan. Baik orang tua maupun remaja perlu memahami bahwa aturan dapat bersifat fleksibel dan sewaktu-waktu dapat diubah, sesuai dengan bertambahnya usia atau situasi yang dihadapi. Negosiasi dan kompromi dalam membuat aturan bagi remaja dapat digambarkan oleh situasi berikut:

 

Vivi (15 tahun) ingin pergi bersama teman-temannya di malam tahun baru untuk menonton kembang api dari sebuah venue. Orang tua Vivi biasanya tidak membolehkan Vivi untuk berada di luar rumah tanpa pengawasan orang tua di atas pukul 20.00 malam. Di usia 12 tahun, sebenarnya Vivi juga pernah meminta izin untuk menonton kembang api bersama teman-temannya, tetapi tidak diberi izin oleh orang tua. Namun kali ini, Vivi menyatakan ia sangat ingin menonton kembang api dengan teman-temannya dan merasa akan tertinggal jika hanya ia yang tidak datang. Lagipula menurut Vivi, tidak setiap hari ia ingin keluar tengah malam tanpa pengawasan orang tuanya. Orang tua Vivi menyatakan keberatan dari sisi orang tua karena mereka khawatir akan keselamatan Vivi, tetapi orang tua juga menyatakan mereka paham keinginan Vivi untuk “tidak tertinggal” dari teman-temannya yang lain. 

Pada akhirnya, orang tua Vivi membolehkan Vivi untuk menonton kembang api tersebut dengan syarat orang tualah yang mengantar Vivi, handphone Vivi harus dalam keadaan menyala dan dapat dihubungi, serta Vivi akan dijemput pukul 00.30 oleh orang tua di venue. Vivi menyatakan keberatan karena perayaan tahun baru yang sebenarnya baru akan dimulai setelah lewat tengah malam, sehingga ia ingin dijemput pukul 01.00 pagi. Orang tua Vivi merasa 01.00 sudah terlampau malam, dan menyatakan bahwa Vivi dapat menghabiskan waktu bersama teman sejak pukul 22.00 di saat orang tua mengantarkannya ke venue. Dengan begitu, Vivi sudah bisa menghabiskan waktu menyenangkan bersama temannya, baru kemudian menikmati kembang api di malam tahun baru. Vivi berpikir sejenak dan merasa pendapat orang tuanya dapat diterima. 

Akhirnya terjadi kesepakatan bahwa Vivi diantar orang tuanya ke venue pukul 22.00, selama di sana Vivi berjanji untuk selalu mengaktifkan handphone-nya dan menyalakan nada dering, dan Vivi akan kembali dijemput pukul 00.30 pagi.

 

Berdasarkan cerita di atas, Vivi dan orang tua sama-sama dapat mengutarakan keinginan dan pendapatnya, serta berkompromi untuk mendapatkan win-win solution. Orang tua Vivi menyadari bahwa Vivi telah berusia 15 tahun, yang tentu berbeda dengan Vivi ketika masih 12 tahun. Di usia 15 tahun, Vivi sudah lebih menginginkan adanya kebebasan dan penerimaan dari teman. Hal inilah yang membuat orang tua Vivi bersedia untuk “mengubah” aturan untuk Vivi yang sedang beranjak remaja. Terkadang, orang tua lupa bahwa anak yang telah remaja juga sudah bisa diberi tanggung jawab lebih banyak dan memiliki pendapat-pendapat lebih bijak dibandingkan anak kecil. Kembali lagi, tujuan dari aturan untuk remaja bukan untuk mengekang mereka sesuai keinginan orang tua, namun untuk membimbing remaja dalam mengambil keputusan bijak sembari menghargai kebebasan yang telah menjadi kebutuhan mereka. 

Referensi :

  • Nolte, D. L., & Harris, R. (2002). Teenagers learn what they live: Parenting to inspire integrity and independence. Workman Publishing.

 

Bagikan artikel ini

Anda mungkin juga menyukainya

Salah satu pengalaman terpenting yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak adalah dengan berkomunikasi dan mendengarkan anak dengan baik.
Setelah libur panjang anak menolak untuk sekolah. Hal ini berpengaruh pada kondisi mental anak, orang tua, dan relasi antara keduanya.
Jika seorang anak dibesarkan oleh orang tua yang selalu bertengkar, maka ia menjadi familiar bahwa cara berkomunikasi adalah dengan berteriak.