Parentification

Keluarga merupakan sekelompok orang yang terkoneksi karena hubungan darah, pernikahan, adopsi, dan biasanya pernah tinggal bersama. Karena terdiri dari banyak orang, tiap-tiap anggota keluarga biasanya memiliki peran masing-masing seperti orang tua, anak, kakak, adik, dan lain sebagainya. Namun, apa ya yang akan terjadi apabila peran anggota keluarga tertukar?

Konsultasi dengan psikolog sekarang

Parentification merupakan salah satu contoh dinamika ketika peran orang tua dan anak tertukar, di mana orang tua yang seharusnya berperan memberi dukungan fisik, finansial, dan emosional dalam keluarga malah mengharapkan anak untuk memberikan dukungan tersebut kepada orang tua. Tertukarnya peran ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya orang tua belum matang secara emosional, jumlah anak yang banyak, orang tua sakit kronis atau mengalami gangguan psikologis, memiliki saudara kandung dengan disabilitas, dan kesulitan ekonomi keluarga.

Tanda-tanda Seseorang Mengalami Parentification:

  • Beranjak dewasa dengan rasa bahwa ia harus bertanggung jawab atas keluarganya
  • Sejak kecil kesulitan untuk bersikap bebas dan spontan seperti anak-anak pada umumnya
  • Sejak kecil sering menyaksikan argumen atau menjadi penengah orang tua (atau orang dewasa lain di keluarga) saat bertengkar
  • Merasa diberikan tanggung jawab yang melebihi usianya, misalnya anak usia 10 tahun sudah harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga atau anak usia 15 tahun sudah harus menjadi “orang tua” bagi adiknya yang masih kecil
  • Sering dipuji sebagai anak yang “dewasa”
  • Seiring beranjak dewasa merasa lebih baik mengandalkan diri sendiri daripada harus meminta dukungan dari orang lain
  • Orang tua kesulitan mengurus dan bertanggung jawab atas keluarga, sehingga menempatkan tanggung jawab itu kepada anak
  • Sering mendapatkan peran sebagai “pengasuh” (atau caregiver) bahkan di luar keluarga dan Anda merasa senang dengan peran tersebut, meski harus mengorbankan diri sendiri
  • Memiliki rasa empati yang kuat
  • Merasa harus selalu berperan sebagai penengah dan pendamai ketika ada konflik
  • Namun, setelah semua usaha dan dukungan yang Anda kerahkan, di penghujung hari Anda merasa usaha Anda tidak diapresiasi oleh orang yang Anda bantu

Dinamika Keluarga yang Sehat vs Parentification

Pada keluarga dengan dinamika sehat, orang tua menyadari perannya meliputi menyadari dan memenuhi kebutuhan anak, menstimulasi anak seiring tahap perkembangannya, mengajarkan anak pengetahuan dan keterampilan dasar, serta memberi tanggung jawab yang sesuai dengan usianya seperti membantu mencuci piring atau merapikan kamarnya sendiri. Orang tua paham bahwa anak butuh bermain, didukung tidak hanya secara finansial tapi juga secara emosional, dan memahami bahwa anak pun memerlukan rasa otonom.

Pada keluarga dengan parentification, fokus pemenuhan kebutuhan bukan pada anak, melainkan pada kebutuhan orang tua. Hal ini menyebabkan anak berperan melebihi kapasitas perkembanganya dan dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Anak menjadi terbiasa mengesampingkan kebutuhan dirinya demi memenuhi kebutuhan orang tua, merasa bertanggung jawab penuh dalam menjaga kesejahteraan orang tua, dan seringkali tidak melakukan apa yang biasa anak lakukan, misalnya bermain bersama teman.

Apa Dampak dari Parentification?

Meski biasanya terjadi saat anak masih berusia dini, parentification dapat berdampak hingga anak tersebut beranjak dewasa, antara lain:

  • Kesulitan menetapkan boundaries
  • Menjadi people-pleaser
  • Secara konstan merasa kecemasan karena sejak kecil terbiasa menghadapi masalah yang kompleks di luar kemampuannya
  • Perfeksionis atau workaholic demi memenuhi kebutuhan finansial orang lain
  • Kesulitan menjalin dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain
  • Ada tahap perkembangan yang terlongkap sehingga kesulitan melakukan hal tertentu
  • Terbiasa berkomunikasi dengan pasif dan tidak terbiasa untuk asertif
  • Ada rasa marah, dendam, tidak puas, duka, dan kelelahan fisik maupun emosional yang dipendam sejak kecil
  • Merasa tidak ada orang yang bisa membantunya, sehingga memilih untuk menyelesaikan semua permasalahan seorang diri

Jika Sudah Terlanjur Mengalami Parentification, Lalu Kita Bisa Apa?

Masa lalu kita sebagai anak yang mengalami parentification tentu tidak bisa diubah. Sebagai anak yang terpaksa dewasa sebelum waktunya, seringkali kita melupakan bahwa ada kebutuhan-kebutuhan kita saat masih kecil yang belum terpenuhi hingga saat ini. Namun jangan khawatir, ada beberapa upaya yang dapat Anda lakukan untuk menumbuhkan rasa berdaya, baik yang dilakukan sendiri maupun dengan bimbingan psikolog:

  • Kembali terkoneksi dengan inner child kita yang terlupakan atau terabaikan dengan mengidentifikasi apa yang inner child kita butuhkan dan apa yang tidak kita dapatkan ketika masih kecil.
  • Berproses menuju penerimaan bahwa wajar jika kita merasa tersakiti, diperlakukan tidak adil, dan marah karena bertahun-tahun harus memendam kebutuhan diri sendiri demi merawat orang lain.
  • Seringkali upaya yang kita lakukan tidak diapresiasi oleh orang lain, oleh karena itu penting untuk memberikan “penghargaan” pada diri sendiri atas jasa-jasa dan peran yang dilakukan sejak kecil. Penghargaan yang dimaksud bisa berupa kata-kata terima kasih yang ditujukan pada diri sendiri atau merayakan “pensiun” dari peran kita sebagai “orang yang dipaksa dewasa sebelum usianya” secara resmi dengan mengadakan makan-makan dan membeli trofi / piagam penghargaan selayaknya kita baru pensiun dari pekerjaan. Orang tua yang terlibat juga disarankan untuk mengapresiasi dan memberi penghargaan pada anaknya yang sudah menggantikan perannya sebagai orang tua.
  • Biarkan diri sendiri bersenang-senang layaknya anak kecil, misalnya dengan mulai menekuni hobi, membeli barang yang kita idam-idamkan, bermain-main di taman, dll.
  • Belajar membangun boundaries yang sehat dengan orang lain (selengkapnya dapat dibaca di artikel Boundaries oleh HatiPlong).
  • Belajar untuk menyayangi diri sendiri. Tidak ada yang salah dari mendahulukan diri sendiri jika memang itu yang sedang kamu butuhkan 🙂
  • Merestruktur kembali peran orang tua dan anak yang jelas dalam keluarga. Proses ini sebaiknya difasilitasi psikolog sebagai pihak ketiga karena anak yang sudah terbiasa berperan sebagai orang tua kadang kesulitan melepas perannya sebagai pengasuh. Dalam proses restrukturisasi peran orang tua disadarkan kembali mengenai peran-perannya sebagai orang tua, anak disadarkan mengenai peran-perannya sebagai anak, dan kedua pihak diajak untuk berkompromi sejauh mana anak dapat diberi tanggung jawab yang sesuai dengan usianya.

Jika Anda pernah mengalami parentification dan merasa butuh bantuan psikolog untuk memprosesnya, Anda bisa menjadwalkan sesi konseling dengan psikolog kami.

Referensi :

Chase, N. D. (1999). Burdened children: Theory, research, and treatment of parentification. SAGE Publication Inc.

Goodman, W. (2020, 27 Januari). 14 Signs you were parentified as a child: How to heal your inner child.

Guha, A. (2021, 31 Juli). The parentified child in adulthood: Understanding the psychological impacts of being parentified as a child.

Bagikan artikel ini

Anda mungkin juga menyukainya

Salah satu pengalaman terpenting yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak adalah dengan berkomunikasi dan mendengarkan anak dengan baik.
Apa benar diatur berlebihan akan membuat remaja merasa terkekang, lalu kemudian membangkang?
Setelah libur panjang anak menolak untuk sekolah. Hal ini berpengaruh pada kondisi mental anak, orang tua, dan relasi antara keduanya.