Share with on:

Artikel Pustaka

Pertemanan Di Masa Dewasa: Quality over Quantity

Adult Friendship (Pustaka Gaya Hidup)

Pertemanan merupakan salah satu aspek yang berkontribusi terhadap kesehatan mental seseorang, baik dari usia dini hingga usia lanjut. Dari interaksi dengan teman, anak kecil belajar untuk berkomunikasi, berbagi mainan, dan bermain bersama. Seiring bertambahnya usia, kita juga belajar mendengar aktif, resolusi konflik, dan saling memberi dukungan. Pertemanan menciptakan rasa sense of belongingness atau merasa dilibatkan sebagai suatu bagian dari kelompok tertentu, yang merupakan kebutuhan naluriah dari manusia. Saat kita masih anak-anak dan remaja, menjalin pertemanan terasa natural dan mudah. Namun, semakin dewasa, kok rasanya semakin sulit ya mempertahankan pertemanan lama atau menjalin pertemanan baru?

Prioritas yang Berubah

Saat bersekolah atau berkuliah, rasanya lebih mudah menghabiskan waktu bersama teman karena kita bertemu dengan mereka di sekolah hampir setiap hari. Waktu luang setelah bersekolah dan di akhir pekan juga banyak dihabiskan dengan bermain atau bertemu dengan teman. Bahkan, ada beberapa kelompok teman yang sering menginap dan traveling bersama. Namun, ketika kita semakin dewasa dan mulai bekerja, tentu saja waktu yang dapat diluangkan untuk bertemu dengan teman sekolah semakin sedikit. Untuk bertemu saja harus dijadwalkan dari jauh-jauh hari agar cocok dengan jadwal semua anggota circle pertemanan, karena saat ini pekerjaan merupakan tanggung jawab utama dengan prioritas yang lebih tinggi daripada bertemu teman.

Bukankah di tempat bekerja kita juga bisa bertemu dengan rekan kerja setiap hari? Mengapa biasanya pertemanan di tempat kerja terasa berbeda dengan pertemanan yang terjalin di masa sekolah? Psikolog bernama Marisa Franco, PhD menjelaskan bahwa meski kita bertemu dengan rekan kerja hampir setiap hari, rasanya lebih sulit menjalin pertemanan yang genuine karena ada profesionalisme yang harus dijaga, sedangkan pertemanan yang terjalin pada usia anak-anak biasanya sangat genuine dan apa adanya. Lagi-lagi, pada situasi ini profesionalisme bekerja menempati prioritas yang lebih tinggi daripada kebutuhan menjalin pertemanan di kantor.

Prioritas yang berubah juga dapat disebabkan oleh pernikahan, di mana fokus perhatian telah beralih dari teman menjadi keluarga barunya (suami, anak), terutama saat awal membangun rumah tangga. Karena banyak hal yang harus dipertimbangkan (siapa yang menjaga anak? Siapa yang membereskan rumah?), meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman lama menjadi lebih sulit untuk dilakukan.

Apakah Pertemanan akan Menjadi Renggang Apabila Frekuensi Berinteraksi Berkurang?

Tentu saja ada kemungkinan pertemanan menjadi renggang, mengingat proximity atau kedekatan secara fisik merupakan salah satu komponen yang berperan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Bisa saja seiring bertambahnya usia, Anda menyukai hal-hal yang berbeda dengan teman sekolah Anda, yang kemudian menyebabkan pertemanan tidak seerat dulu. Bisa juga Anda dan teman lama saling bertemu dengan teman-teman baru yang lebih sefrekuensi dan solid daripada pertemanan kalian. Ada pula pertemanan yang menjadi renggang karena ada pihak yang pindah kota, bahkan negara untuk jangka waktu yang lama. Intinya, renggangnya suatu pertemanan tidak selalu buruk dan tidak selalu pula disebabkan oleh adanya konflik.

Kabar baiknya, terapis dan konselor Anna Williamson menjelaskan bahwa pertemanan yang terjalin dengan baik dapat tetap bertahan dalam periode non-aktif yang lama. Apabila fondasi pertemanan yang terjalin sudah kuat, ajeg, serta masih ada rasa saling peduli dan menghormati, maka berkurangnya frekuensi bertemu dan berkabar tidak akan membuat pertemanan itu renggang. Orang-orang yang tergabung dalam pertemanan solid akan kembali pada pola pertemanan yang penuh dengan kenyamanan dan rasa saling memahami saat bertemu kembali, seolah-olah tidak ada waktu lama yang memisahkan mereka. Mereka saling memahami bahwa terlepas dari berkurangnya waktu yang diluangkan untuk bertemu dan berkabar, mereka tetaplah berteman baik.

Lalu, Apakah Artinya Boleh Tidak Berusaha Meluangkan Waktu untuk Teman?

Walaupun pertemanan yang solid membutuhkan maintenance lebih sedikit daripada pertemanan yang dangkal, tetap saja kita tidak bisa mengharapkan pertemanan akan terus baik-baik saja apabila tidak ada pihak yang berusaha untuk reach out satu sama lain. Ibaratnya berkebun, tanaman paling low-maintenance sekalipun pasti perlu dirawat kan? Apalagi pertemanan tercipta dengan adanya usaha mutual dari pihak-pihak yang terlibat—dengan saling menanyakan kabar, saling bercerita, saling memberi kado, saling mendengarkan, dan lain sebagainya. Apabila pertemanan tersebut terjalin karena hanya ada satu orang yang terus berusaha sedangkan yang lain tidak, maka dapat disimpulkan bahwa pertemanan tersebut tidak mutual. Jika terus berlanjut, kondisi ini dapat menimbulkan rasa kesal yang dipendam, kecewa, dan tidak diterima, sehingga pertemanan dapat menjauh begitu saja. 

Dengan mempertimbangkan energi, waktu, dan prioritas yang dimiliki, Anda dapat menyesuaikan cara untuk reach out kepada teman di sela-sela kesibukan. Mungkin Anda tidak bisa selalu bertemu teman lama, tetapi bisa menanyakan kabarnya secara singkat melalui sosial media.

Pertemanan di Masa Dewasa: Quality over Quantity

Mengingat tanggung jawab yang semakin banyak, waktu yang terbatas, dan prioritas yang berubah, yes, wajar sekali jika semakin dewasa, semakin sedikit pula teman yang kita miliki. Dengan demikian, Anda dapat berfokus pada pengembangan diri sendiri, baik itu dari segi karir, pribadi, maupun hobi. Kondisi ini juga menandakan bahwa Anda menjalani berbagai peran dan tanggung jawab dalam hidup Anda dengan bijak sesuai porsinya.

Sesuai dengan teori psikolog Erik Erikson, tugas perkembangan dewasa muda adalah menjalin hubungan yang intimate dengan orang lain—baik itu dengan pasangan, teman, maupun keluarga—dan bukan menjalin pertemanan sebanyak-banyaknya. Beberapa pertemanan menjadi renggang secara natural seiring berjalannya waktu, meski tidak ada konflik sekalipun. Ada pula pertemanan yang memang sudah semestinya ditinggalkan karena malah memberi pengaruh buruk. Semakin dewasa, harapannya Anda sudah semakin bijak dan dewasa untuk belajar meninggalkan hubungan pertemanan yang toxic. Dengan adanya seleksi natural tersebut, pada akhirnya teman-teman yang akan bertahan dalam hidup Anda untuk jangka panjang merupakan orang-orang yang fondasi hubungannya paling solid. Rasa nyaman, menghormati, dan peduli itu akan selalu ada, meski tidak selalu bertemu setiap hari.

Sumber:

Amerincan Psychological Association. (2022, Januari). Speaking of psychology: Why is it so hard for adults to make friends? With Marisa Franco, PhD. Diakses dari https://www.apa.org/news/podcasts/speaking-of-psychology/adult-friendships 

Dray, K. (2021). Psychology of friendship: Is your friendship “starving” to death? Here’s how to tell (and how to save it). Diakses dari https://www.stylist.co.uk/relationships/good-friendship-tips-advice-psychology/576521 

The British Psychological Society. (2021, 27 Juli). The psychology of friends. Diakses dari https://www.bps.org.uk/psychologist/psychology-friends 

Bagikan artikel ini

curhat line