Share with on:

Artikel Pustaka

Disosiasi

Pustaka Mood Disosiasi (1)

Sebelum kita memulai, coba Anda bayangkan situasi berikut: Anda berada di ruang kelas, sedang mengikuti pelajaran yang sangat amat membosankan mendekati jam pulang. Saat Anda merasa bosan dan mengantuk, fokus Anda sudah tidak berada di kelas itu lagi. Mungkin Anda berpikir, nanti di rumah mau makan apa ya? Nanti malam mau nonton film apa ya? Weekend nanti enaknya jalan kemana ya? Pikiran Anda terus berlarian, tapi tidak lagi terfokus pada kelas yang sedang Anda ikuti. Tiba-tiba saja bel sudah berbunyi, menandakan pelajaran telah usai. Tidak terasa 30 menit berlalu begitu saja ketika Anda sibuk dengan pikiran sendiri. 

Disosiasi dalam Keseharian

Pernahkah Anda mengalami kejadian serupa dengan skenario di atas? Jika iya, situasi yang Anda alami tersebut dapat disebut sebagai disosiasi. Disosiasi adalah pengalaman terlepas dari realita yang berlangsung, bisa dalam bentuk daydreaming (berandai-andai, melamun) atau melarikan fokus kepada hal selain yang sedang Anda alami sekarang. Ketika disosiasi berlangsung, Anda tidak hanya terlepas dari realita yang berjalan, tapi bisa juga merasa terlepas dari badan Anda sendiri hingga tidak menyadari sensasi tubuh. Maka dari itu ketika melamun, terkadang kita membutuhkan waktu untuk menyadari bahwa orang lain sedang berusaha memanggil kita. Dapat dikatakan semua orang pasti pernah mengalami disosiasi dalam suatu bentuk dan lainnya.

Disosiasi dalam Bentuk Ekstrem

Meski disosasi kerap kita alami dalam keseharian, ada pula bentuk-bentuk ekstrem dari disosiasi. Ada kasus-kasus di mana orang yang mengalami disosiasi ekstrem hidup di dalam fantasi yang ia bentuk sendiri, sehingga realita yang ia jalani berbeda dengan realita sebenarnya. Ada pula kasus di mana orang tersebut mejadi tidak bisa merasakan sensasi tubuh maupun mengingat hal-hal penting mengenai dirinya melampaui lupa atau kebas yang normal. Terkadang demi kembali bisa merasakan sensasi tubuh, ada orang-orang yang melakukan self-harm. Selain itu, ada pula gangguan psikologis disosiatif yang cukup terkenal dan kerap dijadikan inspirasi untuk membuat film, yaitu Dissociative Identity Disorder (DID) di mana orang yang mengalaminya memiliki lebih dua atau lebih karakteristik kepribadian (kepribadian ganda). 

Kenapa Disosiasi Dapat Terjadi?

Disosiasi dapat terjadi sebagai bentuk dari pelarian terhadap realita yang dihadapi, entah karena realita tersebut terlalu membosankan atau terlalu menyakitkan bagi kita. Dengan kata lain, disosiasi merupakan salah satu bentuk dari defense mechanism tubuh. Sisi positifnya, pada situasi tidak menyenangkan kita dapat mengambil jarak dan mengalihkan perhatian agar diri tidak terdampak stimulus negatif tersebut. Sisi negatifnya, terkadang defense tersebut bisa menjadi terlalu kuat, sehingga kita menjadi betul-betul terlepas dari realita. Bentuk disosiasi yang ekstrem kerap dialami oleh orang yang mengalami trauma dalam bentuk flashback (mengingat atau merasakan kembali apa yang dialami saat peristiwa traumatis berlangsung). Inkongruensi yang terlalu besar antara kenyataan yang dihadapi dan kondisi ideal yang diharapkan (fantasi) juga dapat memicu disosiasi ekstrem. Oleh karena itu, selain sebagai defense mechanism, disosiasi juga merupakan salah satu bentuk dari simtom gangguan psikologis.

Apa yang Dapat Dilakukan Saat Mengalami Disosiasi?

Apabila Anda merasa disosiasi yang dialami sudah menuju ekstrem, di mana Anda merasa betul-betul terlepas dari badan sendiri, realita yang ada, atau bahkan hidup terlalu dalam di fantasi yang Anda buat sendiri, tandanya Anda perlu melakukan kiat-kiat yang dapat membantu Anda menjejakkan diri kembali ke realita yang sebenarnya. 

  1. Membiasakan mengenali body sensation dan body feeling. Tidak semua orang memiliki kapasitas atau terbiasa melakukan ini, bahkan kerap mengabaikan sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh tubuh sendiri. Padahal menurut buku The Body Keeps the Score oleh Bassel van der Kolk, tubuh kita menyimpan emosi dan pengalaman yang mungkin tidak kita ingat secara kognisi. Jika Anda memejamkan mata dan membayangkan ada sebuah scan bergerak dari puncak kepala ke ujung kaki Anda, apakah ada sensasi tubuh yang terasa tidak nyaman? Di bagian mana tubuh Anda terasa paling nyaman atau stabil? Dengan membiasakan diri untuk mengenali sensasi tubuh, Anda dapat lebih terkoneksi dengan tubuh sendiri. Selain itu, Anda juga dapat mengaktifkan kesadaran Anda terhadap sensasi tubuh dengan berlatih napas dalam.

  2. Melakukan grounding. Seperti arti literalnya, grounding merupakan teknik yang dapat membantu kita untuk kembali “menjejak ke tanah” atau ke realita saat ini. Grounding dapat dilakukan dengan teknik 5-4-3-2-1, yaitu: menyebutkan 5 hal yang Anda lihat di sekitar, 4 hal yang dapat Anda raba teksturnya di sekitar, 3 hal yang dapat Anda dengar (baik yang dekat maupun jauh), 2 hal yang dapat Anda hidu/cium (jika tidak tercium bau apapun, Anda dapat membayangkan wangi yang Anda sukai), dan 1 hal yang dapat Anda rasakan di pengecapan atau mulut.

  3. Menerapkan mindfulness dalam keseharian. Banyak orang awam mengira bahwa menerapkan mindfulness adalah dengan cara meditasi saja, padahal konsep mindfulness yang sebenarnya adalah melatih pikiran Anda untuk berfokus pada apa yang sedang Anda kerjakan saat ini. Contoh mudahnya, ketika Anda sedang makan maka usahakan tidak sambil bekerja. Ketika Anda sedang mengobrol dengan orang lain, usahakan betul-betul fokus pada orang tersebut. Ketika Anda sedang mengerjakan suatu tugas, usahakan selesaikan dulu tugas tersebut sebelum beralih ke tugas yang lain.

  4. Mencari bantuan profesional. Jika Anda merasa gejala disosiasi yang dialami sudah menuju ekstrem dan sulit untuk ditangani dengan kiat-kiat di atas, maka tidak ada salahnya Anda mencari bantuan profesional seperti psikolog. Dengan adanya dampingan profesional, Anda dapat memahami lebih dalam akar dari disosiasi yang dialami dan berbagai teknik tambahan untuk menghadapinya.

 

Sumber:

Psychology Today Staff. (n.d.). Dissociation. Diakses dari https://www.psychologytoday.com/us/basics/dissociation PsychCentral. (n.d.). This is what dissociation feels like. Diakses dari https://psychcentral.com/health/what-dissociation-feels-like

Bagikan artikel ini

curhat line