Share with on:

Artikel Pustaka

Memahami Duka (Grief)

20240227 Pustaka Umum Memahami Duka

Kita seringkali mengaitkan perasaan duka dengan kematian orang terdekat kita. Kenyataannya, kita dapat merasakan duka meskipun tidak dihadapkan dengan kematian. Suatu “akhir” yang terasa signifikan bagi kita dapat memicu reaksi duka, meskipun “akhir” tersebut tidak selalu disebabkan oleh kematian. Contohnya, ketika sebuah hubungan pernikahan yang akhirnya harus berakhir karena perceraian, mungkin saja dapat memicu reaksi duka bagi pasangan tersebut. 

Rasa sedih merupakan salah satu reaksi yang umum muncul ketika seseorang berduka, namun sesungguhnya duka dapat lebih kompleks dari kesedihan. Misalnya, seseorang yang ditinggalkan mungkin merasakan kerinduan yang dalam atas orang yang telah pergi meninggalkannya. Contoh lain, ketika seorang pekerja yang sudah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk bekerja kemudian harus mengakhiri pekerjaannya karena ia sudah memasuki usia pensiun. Pekerjaan tersebut dapat menjadi bagian dari identitas diri pekerja tersebut. Sehingga ketika pekerjaannya berakhir, hal ini dapat memicu reaksi duka. Ia mungkin tidak hanya berduka atas pekerjaannya, namun juga identitas dirinya yang juga terasa seolah berakhir dan hilang.

Penting untuk memahami bahwa duka merupakan hal yang wajar dialami oleh manusia. Grief is a normal part of human experience. Bahkan duka merupakan sebuah proses yang dibutuhkan agar kita dapat melewati pengalaman kehilangan seseorang ataupun sesuatu yang kita cintai, butuhkan, atau bermakna bagi hidup kita. 

Perasaan duka dapat terasa amat berat dan menyakitkan. Salah satu respon natural bagi kita mungkin adalah dengan mengalihkan dan berusaha sekuat tenaga untuk mengubur kedukaan itu. Namun kenyataannya, perasaan duka yang tidak diselesaikan dan dimaknai dengan baik dapat memicu munculnya masalah lain, seperti depresi, keinginan untuk bunuh diri, atau penggunaan alkohol yang berlebihan. Sehingga hal yang diketahui lebih membantu dibandingkan mengubur duka secara paksa adalah dengan mencoba memahami bahwa gejolak emosi yang kita rasakan ketika berduka merupakan hal yang normal, dan lebih baik bagi kita untuk “duduk bersama” duka yang kita rasakan dan memproses segala perasaan ini dengan cara yang sehat dan aman. 

Jika duka yang dirasakan sangat mengganggu, tentu tidak ada salahnya untuk mencari bantuan profesional dalam menerima dan memproses kedukaan yang kita alami. 

 

Resources:
Smith, J. (2022). Why Has Nobody Told Me This Before?. London: Penguin Random House. 

Bagikan artikel ini

curhat line