Savior Complex: Keinginan Menolong yang Keliru

Menolong adalah sebuah perilaku yang baik. Akan tetapi ketika keinginan atau perilaku itu berlebihan hingga merugikan diri sendiri dan orang lain (jangka pendek maupun jangka panjang), maka kita perlu waspada dengan Savior Complex.

Savior Complex adalah istilah untuk menggambarkan suatu hal yang membuat seseorang merasa butuh untuk menolong orang lain secara berlebihan. Biasanya, mereka memiliki tendensi yang kuat untuk mencari seseorang yang memerlukan bantuan dan kemudian membantunya hingga mengorbankan kebutuhan dirinya untuk orang tersebut (Eduard, 2010). Kunci dari adanya savior complex ini adalah adanya tindakan menolong yang berlebihan sehingga memunculkan dampak yang negatif, baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk kedua belah pihak.

Konsultasi dengan psikolog sekarang

Beberapa profesi yang terkait dengan kegiatan menolong rentan mengalami hal ini, seperti tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan lain-lain. Bukan hanya itu, relasi keluarga, pertemanan, dan relasi romantis tanpa batasan yang sehat juga berisiko diwarnai savior complex. Pada awalnya, semua bisa saja terkesan baik-baik saja, tetapi dalam beberapa waktu ke depan berisiko memunculkan masalah baru, baik untuk penolong dan yang ditolong. Contohnya, ketika kita berlebihan membantu orang lain, ada kemungkinan bahwa orang tersebut tidak mendapat kesempatan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri yang biasanya dilandasi oleh motivasi internalnya. Akhirnya, hal ini berisiko memunculkan dependensi yang sering kali membuat orang dengan savior complex mengalami burnout atau kelelahan yang berlebih.

Weinstein (2018) menuliskan bahwa dinamika di dalam diri seseorang dengan savior complex terkait dengan adanya kepercayaan bahwa orang lain tidak mampu untuk merawat/menolong dirinya sendiri, adanya dorongan untuk membuktikan kepada orang lain bahwa ia lebih baik/benar, cenderung memberikan nasehat dan arahan tanpa diminta, dan merasa dibutuhkan sehingga perlu membangun relasi dengan orang lain. Seseorang dengan savior complex merasa lebih baik ketika bisa menolong orang lain (Benton, 2017). Kalau dilihat dengan lebih dalam lagi, ada beberapa hal yang menjadi akar munculnya savior complex. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan, rasa sayang, dan kebahagiaan dalam hidup (Eduard, 2010). Kebutuhan ini sangat mungkin terbentuk dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, termasuk nilai-nilai yang tertanam sejak masa kecil. 

Ketika kita telah merasakan adanya Savior Complex ini di dalam diri, kita bisa melakukan beberapa hal di bawah ini:

  1. Cobalah untuk mendefinisikan ulang tentang apa itu ‘’menolong’’ dan ‘’peduli’’.
  2. Buat batasan yang sehat tentang hal yang bisa kita bantu dan tidak. Kita perlu menyadari bahwa sebagai manusia, kita hanya memiliki kontrol atas diri kita sendiri, bukan orang lain. 
  3. Ketika menolong, pastikan bahwa peran kita adalah memberi bantuan atau dukungan, bukan mengambil alih tanggung jawab. Cek kembali bahwa seseorang yang sedang menghadapi masalah tersebut adalah yang sebaiknya lebih banyak berperan. Berikan ia kesempatan untuk berusaha dan bertanggung jawab sesuai dengan porsi dan kemampuannya.
  4. Cobalah untuk melihat bahwa ‘’mengatakan tidak’’ pada saat dimintai pertolongan adalah hal yang wajar pada situasi tertentu. Tidak menolong bukan berarti tidak baik.
  5. Ketika akan membuat keputusan, cobalah untuk melakukannya dengan lebih pelan. Jika perlu, ambil jeda agar keputusan yang dibuat lebih bijaksana.

Jika upaya-upaya di atas sudah dicoba tetapi masih merasa terganggu dengan adanya savior complex di dalam diri, jangan sungkan untuk bercerita dengan orang-orang terdekat dan juga profesional, seperti psikolog, yah

Referensi:

Benton, S. A. (2017). The Savior Complex: Why good intentions may have negative outcomes

Eduard. (2010). Savior Complex, Anyone.

Weinstein, E. (2018). Do You Practive Savior Behavior?.