Kenalan dengan Self-Compassion, Yuk!

Sebagai manusia, kita perlu saling mengasihi, bukan hanya ke luar diri tetapi juga ke dalam diri.  Hubungan baik bukan hanya diperlukan ketika berelasi dengan orang lain, tetapi juga dengan diri kita sendiri. Self Compassion adalah proses untuk mengasihi atau memberikan welas asih ke dalam diri (Neff, 2022)

Konsultasi dengan psikolog sekarang

Coba kita perhatikan lagi lebih dalam pengalaman-pengalaman yang pernah kita lewati:

  1. Ketika kita gagal atau membuat kesalahan, apakah kita membuka diri untuk memahami emosi dan upaya yang kita jalankan atau lebih mudah untuk kita mengkritik diri begitu keras? 
  2. Ketika sedang berada dalam situasi sulit, apakah kita memberi dukungan untuk diri sendiri atau menilai diri tidak sanggup melaluinya?

Seringkali kita lebih mudah untuk menunjukkan rasa empati pada orang lain, seperti menemaninya melalui hari-hari yang tidak menyenangkan, membantunya kembali merasa nyaman, memberikan dukungan dan semangat. Pertanyaannya, apakah kita juga mudah untuk melakukan itu pada diri kita sendiri?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa self-compassion adalah salah satu sumber daya yang kuat untuk menghadapi masalah dan bangkit kembali dari masa-masa sulit. Self-compassion dapat membantu untuk mengembangkan kondisi fisik dan mental ke arah yang lebih positif. Dengan memiliki welas asih pada diri sendiri, kita mau bangkit bukan karena merasa ‘’kurang’’ tetapi karena ‘’menyayangi diri’’ kita sendiri. 

 

Apakah Self-compassion artinya kita selalu membuat diri merasa senang?

Tentu tidak demikian. Sebagai manusia, kita bisa merasakan berbagai macam emosi. Termasuk sedih, marah, takut, jijik, dan lainnya. Melalui self-compassion, kita secara sadar menerima pengalaman yang memang saat itu memunculkan emosi menyakitkan karena itu memang valid menimbulkan rasa tidak enak. Kemudian, kita ‘’merawat’’ diri kita dengan baik untuk menghadapi pengalaman tersebut. 

Mari kita analogikan dengan ini:

Suatu malam, ada pasien yang masuk UGD dengan luka di beberapa bagian tubuh karena kecelakaan. Tentu, tenaga kesehatan di sana tidak mengatakan bahwa ‘’Ah itu tidak luka’’ jika memang benar bahwa ada luka di sana, atau meminta pasien untuk tersenyum atau tertawa jika memang lukanya sakit dan perih. Hal yang dilakukan adalah menerima menerima pasien tersebut, melihat lukanya, dan berupaya mengobatinya. Proses pengobatannya pun melewati rasa perih dan sakit juga. Jika tenaga yang ada di ruangan itu tidak bisa menolong, mereka akan merujuk ke bagian lain. Nah, meminta bantuan juga merupakan bentuk dari self-compassion.  Bayangkan bahwa kita adalah pasien dan kita juga adalah tenaga kesehatannya. Jika memang membuat sedih, terimalah emosinya bukan ditolak. Begitu pula dengan emosi lainnya. Lalu lakukan hal-hal yang bisa meredakan emosi tersebut, seperti beberapa latihan relaksasi. Dalam melalui ini tentu saja ada rasa tidak nyaman. Namun, jika kita tidak bisa melakukannya sendiri, mintalah bantuan orang lain dan juga tenaga professional ketika dibutuhkan. 

 

Bagaimana cara memulainya?

Memberikan jeda (slowing down atau pause) ketika banyak sekali hal yang membuat kita bingung merupakan salah satu bentuk self-compassion (Boyes, 2021). Akan tetapi, terlalu lama dalam jeda hingga menunda tugas yang semestinya perlu diselesaikan bukanlah self-compassion. Maka, penerapan dari self-compassion ini sangat tergantung dari situasi yang ada. Kita perlu mindful untuk memahami kebutuhan diri sendiri (Boyes, 2021). Being mindful adalah tentang menyadari kondisi yang tengah terjadi saat ini. Mindful berbeda dengan relaksasi yang bertujuan untuk membuat tubuh menjadi lebih rileks dan berbeda dengan distraksi yang bertujuan untuk mengalihkan fokus perhatian. Mindful membantu kita mengobservasi tanpa memberikan penilaian (judgement) tantang kondisi dan kebutuhan kita. Dengan demikian, kita bisa memahami hal yang perlu untuk kita lakukan sebagai bentuk welas asih pada diri sendiri.

Referensi :

Boyes, A. (2021). What It Really Means to Have Self-Compassion

Neff, K. (2022). Self Compassion.