Ketika Anak Menolak Sekolah setelah Libur Panjang

anak menolak sekolah setelah libur panjang

Hai Parents! Salah satu hal yang menjadi tantangan dari libur panjang adalah saat mendengar anak menolak untuk kembali ke sekolah. Apakah ini terjadi di rumah? Padahal, semester baru telah dimulai. Hal ini bukan hanya berpengaruh pada kondisi mental anak, tapi juga orang tua, dan relasi antara orang tua dan anak.

Konsultasi dengan psikolog sekarang

Kalau kita lihat lagi ke dalam diri, kita pun terkadang ‘’didatangi’’ keengganan kembali bekerja setelah liburan. Sepertinya liburan ini belum cukup. Akan tetapi, perkembangan proses berpikir kita membuat hal itu tidak serta merta membuat kita kembali ke tempat tidur dan absen kerja. Nah, perkembangan proses berpikir pada anak sayangnya belum serumit kita sebagai orang dewasa. Maka dari itu, penting bagi kita untuk melihat fenomena menolak sekolah bukan sebagai ‘’ajakan berkonflik’’ tetapi ‘’permintaan tolong’’ karena mungkin anak sedang merasa takut, cemas, atau ketidaknyamanan lainnya.

Berbagai riset menyebutkan bahwa penolakan untuk ke sekolah banyak disebabkan oleh rasa cemas yang meningkat, baik tentang tantangan pelajaran atau pertemanan (apalagi jika ada Riwayat bullying di dalamnya; Brown, 2022., Hurley, 2017). Kalimat ‘’Aku ga mau sekolah’’ atau ‘’Aku mau berhenti sekolah aja’’ sangat mungkin adalah representasi dari ‘’Aku takut tidak bisa mengikuti kegiatan sekolah’’, ‘’Aku cemas bertemu dengan teman yang suka mengejekku’’, atau ‘’Aku merasa kalau aku tidak sepintar teman-teman lainnya’’.

Jika cemas yang datang, maka hal yang dibutuhkan adalah bantuan untuk menurunkan ketegangan, membuat rileks, dan juga melihat sesuatu dengan lebih positif. Bayangkan ketika kita merespon dengan ‘’marah’’ (meskipun sebetulnya kita benar bahwa ‘’idealnya dia pergi ke sekolah’’), maka ketegangan akan bertambah dan hal ini membuatnya makin rumit. Apakah itu artinya, kita perlu mengizinkannya tidak sekolah agar cemasnya hilang? Tentu tidak. Hal yang dibutuhkan adalah membantunya menenangkan diri dan yakin kembali.

Mari kita coba untuk membuatnya ‘’merasa didengarkan’’ terlebih dahulu.

‘’Kamu terlihat nggak nyaman balik ke sekolah lagi. Ada apa?’’ 

Selain membuatnya merasa kita mendengarkannya, pertanyaan ini juga membantunya berefleksi sebetulnya apa yang membuatnya tidak mau ke sekolah. Beberapa jawaban ini mungkin muncul.

‘’Ya, ga mau aja.’’

‘’Adik juga nggak sekolah. Ini nggak adil kalau cuma aku yang sekolah.’’

‘’Aku ga mau ngerjain banyak tugas.’’

Kita bisa merespon dengan memvalidasi emosinya terlebih dahulu.

‘’Hmm, ini situasi yang sulit yah. Mama/papa bisa mengerti itu. Mama/papa ada di sini mendukung kamu menghadapi kesulitan itu. Pulang sekolah, kita bisa bercerita dan memecahkan bersama kalau ada masalah.’’  

Atau respon lain yang membuatnya merasa tidak ditinggalkan sendirian menghadapi  kecemasannya. 

Pembicaraan tentang kembali ke sekolah ini juga bisa dilakukan secara bertahap di minggu akhir liburan. Jadi, tidak langsung membicarakan ini pagi hari sebelum ia pergi ke sekolah. Jadi, persiapan fisik dan mental untuk kembali ke sekolah juga bisa dibangun perlahan-lahan.

Referensi :

Bagikan artikel ini

Anda mungkin juga menyukainya

Salah satu pengalaman terpenting yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak adalah dengan berkomunikasi dan mendengarkan anak dengan baik.
Apa benar diatur berlebihan akan membuat remaja merasa terkekang, lalu kemudian membangkang?
Jika seorang anak dibesarkan oleh orang tua yang selalu bertengkar, maka ia menjadi familiar bahwa cara berkomunikasi adalah dengan berteriak.